Advokat Belly Vidya Satyawan Daniel Karamoy, diduga Korban Kriminalisasi Profesi

Surabaya, kabarkini.co : Pemberitaan terkait penggelapan Sertifikat Hak Milik (SHM) Thie Butje Sutedja yang merupakan mantan klien dari Advokat Belly Vidya Setyawan Daniel Karamoy santer dimedia.

Kabar penetapan tersangka ini dihembuskan Tugianto Lauw selaku kuasa hukum Thie Butje Sutedja, pelapor perkara ini usai menerima Surat Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) yang diterimanya dari penyidik Polrestabes Surabaya Dia ditetapkan sebagai tersangka pada 3 Nopember 2020 sesuai surat penetapan Nomor S-Tap 354/XI/RES.1.11/2020/Satreskrim Polrestabes Surabaya.beberapa waktu lalu. Melalui Pemberitaan salah satu media onlen.

“SP2HP " itu menerangkan status saudara Belly Vidya Satyawan Daniel Karamoy sebagai tersangka dugaan tindak pidana penggelapan atau penggelapan dalam jabatan, sebagaimana dimaksud dalam " pasal 372 KUHP dan atau Pasal 374 KUHP, ” kata Tugianto .

Sementara Mulyadi S.H. selaku Kuasa Hukum dari Belly Vidya Satyawan Daniel Karamoy Angkat Bicara, bahwa penetapan tersangka kliyennya merupakan dugaan perbuatan krimininalisasi profesi Advokat.

Lantaran selama ini hubungan antara Thie Butje Suteja Pemberi Kuasa dan Belly Vidya Satyawan Daniel Karamoy selaku penerima kuasa, sangatlah harmonis.

Ada 10 Surat kuasa dari berbagai perkara yang berbeda – beda yang di berikan oleh Thie Butje Suteja Kepada Belly. Namun di tengah persidangan yang sedang berjalan Thie Butje Suteja mencabut kuasa namun pencabutan kuasa dalam perkara apa tidak disebutkan nomer perkara yang mana , tetapi pencabutan secara umum. Karena kami setiap mengeluarkan surat kuasa ada nomernya.

Sebenarnya tiga sertifikat nomer 1756, 1758 dan 1733 masih ada di kantor kami, bahkan Belly pernah menyarankan ke Thie Butje Sutedja untuk mengambil sendiri.

Pada kenyataannya ada beberapa orang baik oknum pengacara atau rekanan tetapi tidak ada legalitasnya atau surat kuasa untuk mengambil berkas – berkas perkara, dalam hal ini belly harus antisipasi coba kalau ada legalitas atau surat kuasa beda lagi, ini soal sertifikat tanah orang lain yang nilainya gak tanggung – tanggung, ujar Mulyadi pada wartawan.

Terkait uang yang diterima oleh belly sebesar 500 juta dari Notaris Berinisial F. Pada tanggal 15 Maret 2019 adalah DP penjualan tanah lainnya juga milik Thie Butje Sutedja itupun sudah diketahui dan disepakati 1oleh Thie Butje Suteja dimana Notaris Inisial F melakukan Komunikasi lewat Hpnya dan di setujui oleh Thie Butje Suteja yang dianggap sebagai pembayaran surat kuasa perkara no 1127/Pdt.bth/ 2018/PN.Sby.

Kemudian Thie Butje Sutedja meminta uang sebesar Rp 200 juta untuk pengobatan istrinya di singapura dan di transfer ke rekening Thie Butje Sutedja.

Tak hanya itu saja kami selaku kuasa hukum dari Belly akan melakukan langkah langka sebagai berikut ; 1, Melakukan Dumas pada Propam.2 .Gelar Perkara, 3, Pra Peradilan ,4, Gugatan PMH.5 , Laporan Polisi , ujar Mulyadi SH pada Wartawan.Senin,( 9 November 2020 )

Sementara menurut Kasipidum Kejaksaan Negeri Tanjung Perak Eko BudiSusanto SH, Menyampaikan" bahwa SPDP sudah diterima dari penyidik, akan tetapi berkas belum di terima sampai dengan sekarang oleh karena itu kamipun mengirimkan (P.17) untuk Permintaan Perkembangan Hasil Penyelidikan".

Sedangkan Pasal yang di terapkan adalah Pasal 374 KUHP dan Pasal 372 KUHP, dimana Pasal 374 KUHP mengacu pada Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasanya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan kerja atau karena pencarian atau karena mendapat upah untuk itu diancam dengan pidana penjara paling lama Lima Tahun.

Sedangkan Pasal 372 KUHP yaitu Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang yang seluruhnya atau sebagaian adalah kepunyaan kekuasaanya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama Empat Tahun atau pidana denda paling banyak 900 rupiah.atau terkait orang yang menerima upah suatu pekerjaan , ujar Kasipidum Pada wartawan.

Sampai berita ini naik, pihak Thie Butje Sutedja dan kuasa hukumnya belum di konfirmasi.*(f4)