Bambang DH Disambati Warga Ancaman Banjir dan Kurangnya Hidrant

 

Memasuki musim hujan, banjir menjadi mode bagi warga Surabaya. Pada reses ulang tahun 2018, Anggota DPRD Jawa Timur dapil I (Surabaya-Sidoarjo), Bambang DH, warga yang ada di Kelurahan Kalisin Surabaya khusus warga RT 03 RW 08 dan RT 06 RW 11, Kamis (15/11/2018) malam disambati oleh warga.

Salah satu aspirasi yang disampaikan adalah soal adanya banjir di Surabaya yang berisi hujan lebat.

Bambang DH mengaku, saat dia menjabat walikota Surabaya hingga sekarang gorong-gorong peninggalan Belanda ini masih aktif. Gorong-gorong ini mulai jalan Darmo sampak Blauran ketat 1,5 meter.

"Gorong-gorong ini orang yang sama. Sekarang hujan deras 2 jam Surabaya tidak banjir. Kalau tidak tersumbat," ujar pria yang kini menjadi anggota DPRD Jatim, saat menerima aspirasi masyarakat di jalan Embong Blimbing, Surabaya, Jumat (16/11) malam hari.

Bambang DH mengaku Surabaya pernah mengalami banjir besar saat hujan deras. Rumah warga terendam air polusi untuk beraktifitas. Esok jadi, dia bersama staf Pemkot Surabaya untuk mencari penyebab banjir, dan fakta bahwa gorong-gorong mampet karena gajih yang telah mengkristal.

“Gorong-gorong ternyata tersumbat gajih yang dibuang masyarakat, baik itu lemak dari soto, rawon yang sudah lama mengendap dan menjadi kristal besar.Ternyata gorong - gorong Belanda penyebabnya,” paparnya.

Ketua Bappilu DPP PDIP yang memungkinkan masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan, terutama di udara dengan tidak memilih sampah sembarangan. Mengingat Surabaya diserang oleh tiga sungai dari Porong dan Mojokerto. Yakni sungai dari Watudakon, Kali Tengah, dan Kali Mati. Kondisi tersebut belum diperparah lagi. Penyerangan dari Sungai Brantas.

"Kita selalu berhubungan dengan Jasa Tirta Malang. Biasanya kontak, karena Malang Raya jadi sumber udara hujan. Kemudian banjir sampai Blitar jam sekian, sampai Mojokerto jam sekian, sampai Tulungaggung jam sekian," terangnya.

Anggota Komisi A DPRD Jatim itu
mengungkapkan bahwa banyak masyarakat dari luar Surabaya yang menganggap banyak keanehan. Mengingat saat hujan kondisi sungai di Surabaya masih kering. Pemkot Surabaya langsunh menyedot air menggunakan pompa ketika air mulai naik ke permukaan.

"Orang heran musim hujan kok sungai tidak ada airnya. Kan sangat rendah.

Selain itu, sebagian besar warga Surabaya yang pernah dia temui saat reses termasuk di Keluarahan Kaliasin Surabaya adalah menyangkut BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) khususnya terkait sistem rujukan yang dinilai menambah rumit masyarakat ketika membutuhkan pelayanan kesehatan. Di satu sisi masyarakat memang banyak mengucapkan terima kasih karena sangat membantu.

"Namun di sisi lain memang masih perlu dilakukan perbaikan. Misalnya, ada warga Mojo yang sakit darah tinggi mengeluh karena rujukannya harus ke rumah sakit yang ada di wilayah Kandangan, ini khan jauh sekali sehingga masuk akal warga mengeluh,” kata Bambang DH.

Ia juga sudah berulangkali menyampaikan keluhan masyarakat terkait pelayanan BPJS itu kepada instansi terkait yakni Dinas Kesehatan Pemprov Jatim supaya dikoordinasikan dengan pihak BPJS. “Kami berharap sistem rujukan jika menambah buruk pelayanan kesehatan sebaiknya ditiadakan. Biarkan masyarakat bisa memilih rumah sakit yang dikehendaki,” dalih anggota Komisi A DPRD Jatim.

Selain masalah BPJS, warga Kaliasin Surabaya juga berharap sistem hydrant air untuk antisipasi kebakaran dilakukan revitalisasi. Pasalnya, sejak jaman Belanda sejatuinya sudah ada, namun karena tidak terawat dan minimnya sistem koordinasi antar instansi pemerintah sehingga titik-titik hydrant itu lenyap tak berbekas.

Kebanyakan titik-titik hydrant itu sudah tertutup aspal saat ada proyek perbaikan jalan (overlay) tak adanya koordinasi yang baik antara dinas PU dengan dinas PMK maupun dinas pengairan hingga PDAM. “Peta hydrant di Surabaya saya kira perlu dilakukan revitalisasi supaya kalau terjadi kebakaran tidak kesulitan mencarinya, seperti saat terjadi kebakaran di Pasar Kapasan beberapa waktu lalu,” ujar pria yang maju menjadi Caleg DPR RI pada Pileg 2019 ini.

Khusus untuk pemukiman padat penduduk dan jalannya sempit, kata Bambang DH perlu adanya tabung-tabung PMK di setiap RT dan RW jika bisa dilakukan tindakan pemadaman secepatnya agar tidak meluas.

“Warga Kaliasin juga membantu baik PMK baik dari Pemkot Surabaya maupun Pemprov Jatim,” kata politisi senior PDI Perjuangan Surabaya ini