Demi Hadiri Pidato AHY, Legislator ini Rela Naik Mobil Hias

Demi dapat menghadiri pidato politik Komandan Kogasma DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Anggota DPR RI wilayah Jatim I Surabaya-Sidoarjo, Lucy Kurniasari rela menaiki mobil hias gedung DBL Arena, Surabaya.
Selama perjalanan dari posko pemenangan Jalan Ketampon Surabaya, mobil hias yang dinaiki Ning Lucy, (sapaan akrab Lucy Kurniasari) diiringi musik Tong Tong khas Madura yang dikalaborasi dengan nyanyian "Rek Ayo Rek" khas Suroboyo.
Mereka terdiri dari 14 penari dan 14 komunitas sepeda kuno. 41 pemain musik untuk mengingatkan partai demokrat no 14. Disamping itu, Ada 2 pasang Cak dan Ning Suroboyo untuk mengingatkan bahwa Lucy Kurniasari adalah jebolan Ning Suroboyo era 86-an ini.
"Saya sengaja menonjolkan budaya Jawa Timur dalam kampanye akbar yang terakhir Partai Demokrat . Tujuannya, agar budaya Jawa Timur tetap lestari dan semakin mencintai budaya leluhurnya," katanya.
Ning Lucy percaya bahwa warga Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, sangat menghormati budaya leluhurnya. Maka semangat melestarikan budaya Jatim ada pada setiap warganya. Kebanggaan terhadap budaya sendiri juga tercermin pada kuatnya kepercayaan diri setiap warga.
"Hal itu terlihat dalam bersikap dan bertindak warga Jawa Timur yang tetap mengacu pada budayanya," tegas legislator yang kembali mencalonkan diri DPR RI itu.
Ning Lucy berharap warga tidak ada yang golput. Budaya tidak golput adalah contoh untuk melestarikan budaya.
Hal senada AHY yang mengajak para kader untuk tidak golput pada Pemilu 17 April mendatang.Jika ingin Demokrat mengusung calon presiden sendiri pada Pemilu 2024, maka Pileg tahun ini Demokrat harus menjadi pemenang.
Pihaknya optimistis dengan militansi kader di lapangan, Demokrat bisa sukses dalam Pileg 2019 dengan menempatkan kader-kadernya di parlemen.
“Saya juga dapat laporan dari DPD tentang bangkitnya semangat kader untuk menang di pemilu ini. Semoga hasil suara mencapai target yang kita harapkan,” pintanya.
AHY mengaku pemilihan serentak, baik untuk pileg maupun Pilpres tak menguntungkan bagi partainya. Mengingat parpolnya tergolong partai yang tak punya kader utama dalam kontestasi Pilpres 2019.
"Hanya parpol yang punya kader utama yang mendapatkan efek elektoral signifikan,” pungkas suami Annisa Pohan ini.