Demo PPKM Berujung Pornografi Dinar Candy Jalani Sanksi Wajib Lapor

kabarkini.co – Polres Metro Jakarta Selatan memutuskan tidak melakukan penahanan terhadap DJ berusia 28 tahun, Dinar Candy karena dinilai kooperatif. Namun tetap harus jalani wajib lapor.

Dinar Candy sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus memakai bikini two pieces di jalan Lebak Bulus Raya, Cilandak, Jakarta Selatan. Selasa, (3/8/2021).

Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Azis Andriansyah menjelaskan, selama proses pemeriksaan, Dinar Candy telah bersikap kooperatif kepada tim penyidik sehingga tidak dilakukan penahanan.

"Selama yang bersangkutan bersikap kooperatif, kita tidak melakukan penahanan. Tapi, jika tidak kooperatif maka perlu kita lakukan langkah-langkah lain," tutur Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Azis Andriansyah.

Azis melanjutkan, keputusan untuk tidak menahan perempuan yang berprofesi sebagai Disk Jockey (DJ) ini dikarenakan alasan subjektif penyidik. Kendati demikian, ia menegaskan Dinar Candy diharuskan menjalani wajib lapor.

Aksi menghebohkannya itu di shoot temannya yang berada di mobil yang membawa Dinar Candy. Dan diduga  wanita kelahiran 21 April 1993 itu yang kemudian menyebarkannya di media sosial.

Tak lama kemudian, postingannya di Instagram tersebut langsung dihapus. Namun, aksinya tersebut sudah kadung menyebar di media sosial yang membuat viral. Bahkan mulai dari pejabat, politikus, sesame artis, hingga masyarakat mengeluarkan komantar atas aksi menghebohkan tersebut.

Sebelumnya Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Azis Andriansyah mengatakan bahwa aksi bikini Dinar Candy tersebut dijerat dengan Undang-Undang Pornografi.

"Kita menetapkan saudari DC sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana pornografi sebagaimana tercantum dalam Pasal 36 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2008 dengan ancaman hukuman 10 tahun atau denda 5 milyar," katanya. Kamis, (5/8/2021).

Azis melanjutkan, pihaknya sampai dengan saat ini masih melakukan penyelidikan terkait motif dari Dinar Candy melakukan aksi tersebut. Lantaran, apa yang dilakukan melanggar norma budaya dan agama. "Sedang kita dalami, yang jelas apapun yang dilakukan di Indonesia ini ada norma atau ada etika norma budaya, norma agama yang berlaku di masyarakat kita. Tindakan yang bersangkutan in tidak mengindahkan norma budaya dan agama," lanjutnya.***