Dinas Pertanian Jatim Teledor, Aset Pemprov Bernilai Ratusan Juta Raib

Surabaya: Keteledoran dilakukan oleh Dinas Pertanian Jatim yang menyebabkan raibnya  asset milik Pemprov Jatim terhadap peralatan pengawetan holtikultura (cold storage) di daerah Lawang Malang.

Keberadaan asset milik Pemprov Jatim yang bernilai milyard tersebut bermula ketika adanua Kerjasama antara Pemprov Jatim dengan PT JAVA GREEN AGRICULTURAL PRODUCE untuk sewa menyewa tanah dan bangunan untuk pengawetan holtikultura.

“ Ini perjanjian dibuat pada era gubernur Imam Utomo dengan system BOT (Build Operate Transfer) dimana dalam perjanjian tersebut berakhir pada tahun 2015. Perjanjian Kerjasama berlangsung selama 10 tahun di era kepemimpinan gubernur Imam Utomo. Yang digunakan adalah tanah dan bangunan seluas 4 Ha,”jelas anggota Komisi B DPRD Jatim Subianto saat dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (30/4/2020).

Menurut pria asal Kediri ini, setelah masa perjanjian Kerjasama tersebut berakhir pada tahun 2015, oleh Pemprov Jatim dilakukan perpanjangan perjanjian. “ Di era gubernur Soekarwo, dilakukan perpanjangan perjanjian. Yang semula menjadi BOT perjanjiannya berubah menjadi sewa-menyewa tanah dan bangunan bersama cold storage yang didalamnya.Karena aturan perjanjian kalau sudah berlangsung 10 tahun, maka asset tersebut menjadi milik Pemprov Jatim maka perusahaan tersebut menyewa asset tersebut.,”sambung politisi asal partai Demokrat ini.

 Dalam perjanjian sewa menyewa tersebut, kata Subianto, yang mengadakan perpanjangan perjanjian Kerjasama tersebut untuk Pemprov Jatim diwakili oleh Sekdaprov Jatim saat itu Achmad Sukardi (disebut pihak kesatu) dan pihak perusahaan oleh Direktur perusahaan PT JAVA GREEN AGRICULTURAL PRODUCE yaitu  Tseng Ying Hsuing (disebut pihak kedua).

“ Dalam perjanjian tersebut, nilai sewa selama lima tahun senilai Rp 630 juta dengan rincian untuk tahun 2015 dibayar sebesar Rp 200 juta, tahun 2016 sebesar Rp 210 juta dan tahun 2017 sebesar Rp 220 juta,”sambungnya.

Untuk pembayaran sewa menyewanya, kata Subianto, disetorkan kepada Bendahara  Penerima Pembantu UPT (Unit Pelaksana Teknis) Pengembangan Benih, Palawija Dinas Pertanian Jatim untuk disetorkan pada rekening kas umum Daerah PT Bank Jatim di nomor rekening 0011000477.

“Dalam perjanjian tersebut juga disebutkan jika pihak kedua terlambat membayar akan dikenakan dengan 1 permill per hari,”jelasnya.

Lambat laun. lanjutnya perjanjian tersebut berlangsung selama 10 tahun sampai era kepemimpinan gubernur Soekarwo berakhir.

“Saat berakhir perjanjian tersebut secara otomatis, ada penyerahan asset dari perusahaan ke Pemprov Jatim,”jelasnya.Namun faktanya, kata Subianto, ketika pihaknya melakukan pengecekan terhadap lahan dan bangunan berserta isinya yang merupakan obyek dari klausul perjanjian tersebut, ternyata semua peralatan yang digunakan untuk pengawetan holtikultura raib.

“Disana dibangun Gudang dan perkantoran maupun tempat untuk menyimpan produk-produk holtikultura. Disan seharusnya ada peralatannya yang ditaksir nilainya mencapai ratusan juta. Tapi ketika kami datangi ternyata peralatannya tak ada. Hal inilah yang akan pertanyakan di Dinas Pertanian Jatim. Dalam waktu dekat akan kami surati instansi tersebut terhadap raibnya cold storage yang berfungsi untuk pengawet holtikultura tersebut dan jika perlu kami lakukan pemanggilan untuk meminta penjelasan mereka,”jelasnya.

Diungkapkan oleh Subianto, jika nantinya penyebab raibnya peralatan pengawet holtikultura tersebut dilakukan pihak kedua, tentunya pihak kedua telah melakukan pelanggaran terhadap klausul dari sewa -menyewa tersebut.

“ Dalam perjanjian tersebut disebutkan kalau pihak kedua dilarang memindah tangankan,menjaminkan atau melakukan transaksi dalam bentuk apapun terhadap penggunaan tanah dan bangunan serta cold storage yang dimaksud kepada pihak lain,”katanya.

Tak hanya itu, dalam perjanjian Kerjasama sewa menyewa tersebut juga disebutkan kalau melarang pihak kedua mengubah peruntukan tanah dan bangunan serta cold storage dan peruntukannya semula  yaitu untuk sarana usaha.

 Ditambahkan oleh Subianto, jika masa perjanjian sewa menyewa berakhir, secara otomatis pihak kedua mengembalikan asset tanah dan bangunan bersama cold storagenya. (Yudhie)