DPRD Jatim Apresiasi Polrestabes Surabaya Dalam Pengungkapan Kasus Penjualan Bayi

 

Kabarkini.co: Pengungkapan Polrestabes Surabaya dalam membongkar jual beli bayi di Surabaya mengundang perhatian Komisi E DPRD Jatim. Pasalnya, tindak pidana tersebut di masyarakat saat ini sangat mengundang keprihatinan bagi semua lapisan masyarakat.

“Rata-rata korbannya adalah hasil hubungan diluar nikah. Begitu pikiran kalut hingga akhirnya menjualnya kepada orang tua asuh. Saya sampai memikirkan kok tega seorang ibu melakukan hal itu. Ini sangat memprihatinkan sekali,”ungkap anggota Komisi E DPRD Jatim AGus Dono Wibawanto di Surabaya, Kamis (18/10).

Politisi asal Partai Demokrat ini menyayangkan transaksi jual beli melibatkan seorang bayi yang belum mengenal dosa. “Yang salah orang tuanya, tapi bayi yang menanggung semuannya. Ironisnya lagi transaksi jual belinya ketika usia bayi masih tiga hari,”lanjutnya.

Pria yang juga sebagai dosen disebuah PTS di Surabaya ini mengatakan factor ekonomi juga menjadi alasan dari orang tua untuk nekat menjual anak yang dikandungnya. “Bisa jadi hal tersebut bisa terjadi. Semua memungkinkan adanya praktek jual beli anak tersebut,”sambungnya.

Ke depan, kata Agus Dono, pihaknya berharap peran serta masyarakat untuk peduli lingkungan menjadi salah satu upaya untuk menghambat tindak pidana tersebut muncul.” Jangan sampai masyarakat justru memicu tindak pidana tersebut. Misalnya melakukan bully kepada seorang wanita yang hamil diluar nikah. Ini akan menimbulkan penekanan terhadap psikologi seorang ibu yang nekat menjual anaknya untuk dicarikan orang tua asuh dengan imbalan sejumlah uang,”terangnya.

Tak hanya itu, sambung politisi asal Malang ini, peran pemerintah juga perlu hadir ke tengah masyarakat agar peristiwa tindak pidana tersebut tak terjadi.” Pemerintah harus turun dan sosialisasi terhadap pentingnya menjalin hubungan yang sehat dan jangan sampai hamil diluar nikah. Peran Dinas Sosial dan pemberdayaan perempuan untuk bersinergi dengan  eleman masyarakat lainnya untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat pentingnya adanya pernikahan. Dengan adanya sinergi tersebut diharapkan mampu meminimalisir tindak pidana penjualan bayi tersebut,”tutup pria yang juga politisi partai Demokrat ini.

Sekedar diketahui, Polrestabes Surabaya berhasil menggagalkan upaya transaksi jual beli terhadap bayi hasil hubungan diluar nikah. Dengan berkedok sebuah yayasan konsultasi anak, Polrestabes Surabaya mengamankan empat tersangka sindikat penjualan bayi di wilayah Surabaya, senin (8/10).

Dalam pengungkapan tersebut diamankan empat tersangka antara lain AP laki-laki (29) warga Sawunggaling Sidoarjo, LA (22) ibu yang menjual bayi warga Bulak Rukem Surabaya, KS (66) bidan nonaktif warga Badung Bali, dan NS (36) pembeli bayi warga Badung Bali.

“Mereka memanfaatkan medsos jenis instagram untuk bertransaksi penjualan bayi diluar nikah. Tersangka menyakinkan calon korban yaitu ibu yang mengandung hasil diluar nikah agar tak mengaborsi bayinya namun mereka menjanjikan mencari orang tua asuh. Lalu kepada calon orang tua asuh, mereka memasang tarif beraneka ragam kisaran sekitar Rp22 juta. Hasil tersebut akan dibagi secara rata, baik pelaku sebagai pengelola mendapatkan komisi sebesar Rp2,5 juta. Kemudian ibu pemilik bayi mendapatkan uang Rp15 juta, dan bidan yang bertugas sebagai perantara antar pembeli sebesar Rp5 juta,”jelas kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran dikantornya, Selasa (9/10).

Sudamiran mengatakan dalam menyakinkan calon korban, tersangka memposting pengakuan dari beberapa orang yang sudah menjadi klien mereka dalam mencarikan orang tua asuh.” “Akun yang dikelola oleh pelaku ini memiliki sekitar 600 follower atau pengikut. Dari ratusan follower itu, beberapa di antaranya adalah penjual bayi sekaligus dengan pembelinya,”jelasnya.(Yudhie)