Kembangkan Perbankan Syariah, BI Gandeng Media

Kabarkini.co - Sebagai bank sentral milik pemerintah Bank Indonesia menempatkan media, baik cetak, elektronik, serta online sebagai stakeholders penting khususnya dalam percepatan sosialisasi ekonomi dan keuangan syariah kepada masyarakat.

“Melalui kegiatan edukasi ekonomi dan kuangan syariah kepada para awak media ini, kami berharap dapat meningkatkan wawasan kepada masyarakat akan konsep ekonomi dan keuangan syariah,” ujar Asisten Direktur Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Andy Indra Prayogo, saat membuka pelatihan ekonomi dan keuangan Syariah kepada awak media di Malang, Jumat (13/10).

Menurutnya, peran media sangat strategis dalam upaya percepatan pemahaman antara konsep ekonomi konvensional dengan ekonomi syariah. “Lewat media, sosialisasi akan tersampaikan secara cepat dan tepat,” katanya. Karenanya, BI ingin meningkatkan wawasan wartawan terkait konsep ekonomi dan keuangan syariah, dengan harapan bisa mendukung percepatan pemahaman antara konsep ekonomi konvensional dan syariah.

Sebagai negara dengan umat Muslim terbesar, namun Aset Perbankan Syariah di Indonesia hingga kini masih sangat rendah. sektor perbankan syariah, saat ini telah memiliki 13 Bank Umum Syariah, 21 Unit Usaha Syariah/UUS dan 167 Bank Perkreditan Rakyat Syariah/BPRS.

Adapun, pertumbuhan rata-rata aset (yoy) perbankan syariah rata-rata sebesar 25,02 persen dalam 5 tahun terakhir. Total aset perbankan syariah sekitar Rp387,87 triliun. Industri perbankan syariah juga telah mengelola hampir 23,9 juta rekening dana masyarakat, melalui kurang lebih 2600 kantor jaringan di seluruh Indonesia. Sementara itu, aset perbankan syariah tersebut baru mencapai 5,42 persen dari aset perbankan di Indonesia.

Hal tersebut bukan dikarenakan kemampuan bank syariah dibawah bank konvensional, melainkan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. “Masyarakat belum terbiasa dengan istilah Syariah. Bank istilah-istilah tidak dimengerti oleh masyarakat. Misalnya istilah Mudharabah,” terangnya.

Istilah dalam bank syariah memang berasal dari bahasa Arab, sehingga hanya sedikit masyarakat yang mengerti dan tertarik olehnya. Padahal, keuntungan yang ditawarkan bank Syariah tidak kalah dengan bank konvensional. “Investasi pada bank syariah lebih aman dan terhindar dari derivatif,” jelas dia.

Andy meyakini, perkembangan ekonomi syariah di Indonesia terutama Jawa Timur yang mayoritas berpenduduk muslim, akan terus meningkat. Tentunya didukung kerja keras dan dorongan semua pihak, potensi ekonomi dan keuangan syariah ini akan meningkat.”

BI optimistis perbankan syariah di Jatim khususnya masih punya kesempatan untuk tumbuh dengan baik apalagi di Jatim memiliki 6.003 pesantren dan 965.646 santri, serta sembilan bank umum syariah, 89 bank perkreditan rakyat syariah (BPRS), dua modal ventura syariah, Pegadaian Syariah, dan dua leasing syariah.

Dalam pelatihan tersebut turut hadir memberikan materi perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur dan perwakilan dari masyrakat ekonomi syaria Jawa Timur. (d)