Payah, Pendirian Pabrik Gula KTM Dan RMI Di Jatim Langgar Regulasi Pemerintah

Surabaya Kabarkini.co: Ketua Komisi B DPRD Jatim Aliyadi Mustofa mengatakan saat melakukan hearing dengan manajemen pabrik gula KTM (Kebun Tebu Mas) dan RMI (PT Rejoso Manis Indo) di DPRD Jatim, Rabu (26/8/2020).

“ Hearing digelar sebagai tindaklanjut hasil temuan di lapangan dua bulan lalu ketika melakukan kunjungan di dua pabrik gula swasta tersebut,”jelasnya di kantornya.

Dibeberkan oleh politisi asal Madura ini, sesuai dengan kajian Dinas Perkebunan Jatim diketahui kalau dalam pendirian dua pabrik tersebut ada regulasi yang belum terpenuhi dalam pendiriannya.

“ Saya tak bisa mengatakan ini pelanggaran, namun belum terpenuhi regulasi persyaratan pendiriannya,”jelas mantan anggota DPRD Sampang ini.

Aliyadi lalu mencontohkan bahwa dalam pendirian pabrik gula harus memiliki lahan minimal 20 persen.” Tetapi faktanya mereka hanya memiliki lahan 12 persen dan bahkan ada nol persen. Temuan ini juga sama dengan kajian yang dilakukan Dinas Perkebunan Jatim,”jelasnya.

Contoh lain pelanggaran yang dilakukan dua pabrik tersebut, lanjut Aliyadi dalam pengambilan tebu.” Pabrik tebu RMI di Blitar ternyata ijinnya hanya untuk pengambilan bahan baku dari luar kabupaten Blitar. Faktanya mereka mengambil tebu di Situbondo dan daerah lainnya. Ini jelas sebuah pelanggaran,”lanjutnya.

Dengan temuan ini ,  kata Aliyadi, awal september mendatang komisi B akan melakukan kajian bersama dengan dinas terkait , untuk merumuskan sangsi apa yang akan diberikan pada kedua pabrik gula swasta ini, "Ya apabila banyak regulasi tidak terpenuhi, kemungkinan ya pencabutan ijin. Tentu mereka tidak bisa berproduksi,”tutupnya. (yudhie)