Polda Jatim Damaikan Perseteruan PSHT dan Pagar Nusa

SURABAYA - Polda Jawa Timur akhirnya berhasil mendamaikan perseteruan antar perguruan silat yakni Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Pagar Nusa di Jawa Timur. 
Perdamaian ini disepakati oleh kedua belah perguruan silat di Ruang Bromo Mapolda Jatim, Selasa 29 Oktober 2019. Ikrar damai disaksikan langsung oleh Wakapolda Jatim Brigjen Pol Djamaludin, Dirintelkam Polda Jatim Kombes Pol Teddy Setiady, Wadirintelkam Polda Jatim AKBP Iwan Surya Ananta 
Sedangkan dari Perguruan Silat yakni Ketum PSHT Pusat Madiun R Moerdjoko dan Ketum IPSNU Pagar Nusa Jatim Abdul Muchid. 
Dalam kesempatan itu, puluhan perwakilan tokoh PSHT dan Pagar Nusa Wilayah Jatim mengikrarkan diri untuk saling menjaga situasi tetap kondusif, aman dan damai.
Brigjen Pol Djamaludin mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada kedua perguruan silat yang mau memenuhi undangan silaturahimnya. Djamaludin menilai ada kesalahpahaman antara perguruan pencak silat PSH Terate dengan Pagar Nusa. Maka Polda Jatim meminta agar permasalahan ini tidak diperpanjang, dan segera diselesaikan.
"Mari kita bertukar pikiran agar masalah ini tidak semakin membesar dan menimbulkan korban lagi," pintanya. 
Sementara, Kombes Pol Teddy Setiady mengaku prihatin dengan kejadian kemarin yang seharusnya tidak terjadi. Dirinya mencontohkan di perbatasan Jawa Tengah masih sering terjadi kesalahpahaman antar perguruan pencak silat. 
"Saya berharap kejadian yang menimbulkan korban jiwa tersebut bisa dihindari," katanya. 
Polisi mengaku pergerakan massa menjadi permasalahan yang sulit dihadapi. Mengingat setiap ada kegiatan pencak silat pasti ada pergerakan massa yang banyak. Maka sebagai langkah awal untuk menghentikan kesalahpahamam dengan melakukan pengawasan internal. Jika pengamanan hanya dilimpahkan kepada Polri dan internal perguruan pencak sendiri, dipastikan tidak akan berhasil. Upaya pencegahan harus dilakukan dengan pendekatan secara intensif. 
"Kejadian itu berawal dari kesalapahaman dari warga pencak silat saat mereka mengerahkan pergerakan massa," tambahnya.
Sementara, Ketum PSHT Pusat Madiun (Parluh 2017) Moerdjoko turut mengucapkan terima kasih kepada Polri yang telah membantu untuk audiensi agar masalah bisa cepat selesai.
Moerdjoko menegaskan, apabila ada masalah sedikitpun di internal PSHT, pihaknya langsung mencari solusi penyelesaiannya. Dengan begitu, tidak menimbulkan konflik yang lebih besar lagi.

"Kami memohon kepada Polri agar masalah ini segera mendapat kejelasan, karena ada pihak  lain yang ingin membenturkan kami dengan perguruan lain," terangnya.
Atas nama Perguruan Terate Pusat Madiun, Moerdjoko mengaku telah menerima laporan dari  Dir Intelkam bahwa kejadian tersebut sudah ditangani dan dikondisikan dari Pihak Kepolisian. 
"Kami berharap dari pihak Pagar Nusa memaklumi keadaan kami yang sekarang ini, kami sedang mengalami dualisme kepengurusan sehingga warga PSHT terbagi menjadi 2," paparnya.
Moerdjoko mengungkapkan, bahwa perguruan silatnyasering diadu dengan cara-cara yang tidak sportif dan tidak gentleman dengan perguruan lain. Maka dirinya berharap persoalan ini bisa dicari solusinya. Anggota PSHT di daerah diharapkan agar tidak mudah terhasut oleh oknum yang ingin memecah belah. 
"Mari kita ciptakan kondisi kamtibmas dari wilayah kita masing masing agar tidak terjadi kericuhan dan gangguan ketertiban," pintanya.
Pada kesempatan sama, Ketum Ikatan Pencak Silat Nadlatul Ulama Pagar Nusa Jatim, Abdul Muchid juga menyayangkan atas kejadian tersebut. Menurut dia, seharusnya antar perguruan silat mampu bersama-sama menjaga keamanan wilayah Surabaya, khususnya di Jatim. 
"Ketika saya tanyakan warga Pagar Nusa Surabaya, mereka tidak tahu siapa yang merampas bendera PSHT. Saya yakini bahwa ada oknum. Kalau terus terusan begini, kita akan diadu domba agar terpecah belah," katanya.
Pihaknya menyakini, kalau Pagar Nusa sudah diberi arahan oleh kiai sehingga anggota Pagar Nusa tidak pernah melanggar arahannya.