Sidang Kesaksian Bupati Nganjuk Nonaktif, Para Saksi Sebut Mendapat Tekanan

Sidoarjo, kabarkini.co : Bupati Nganjuk Nonaktif, Novi Rahman Hidhayat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Surabaya di Sedati, Sidoarjo pada Jumat (12/11/2021) sore. Dalam sidang kali ini, ada 5 saksi yang dihadirkan.

5 orang tersebut merupakan para camat di Kabupaten Nganjuk dan bersaksi terhadap kasus dugaan suap yang didakwakan pada Novi. Satu persatu, para saksi mengaku keterangannya diarahkan oleh penyidik ketika diinterogasi. Mereka ialah :

  • Camat Berbek, Haryanto,
  • Camat Tanjunganom, Edi Srijanto,
  • Camat Sukomoro, Tri Basuki Widodo,
  • Camat Pace, Dupriyono,
  • Camat Loceret, Bambang Subagyo

Camat Berbek, Haryanto mengatakan, pernah ditanya penyidik perihal uang yang diberikan pada Bupati Novi. Ia mengaku tak pernah memberikannya.

Namun, ia mengaku pernyataannya diolah penyidik. Seakan-akan, jawabannya diarahkan untuk menyerahkan uang pada Bupati Novi.

"Oleh penyidik diolah, seolah-olah agar jawaban saya diarahkan menyerahkan uang ke penyidik. Saya tidak pernah memberikan uang kepada pak bupati," kata Haryanto saat sidang, Jumat (12/11/2021).

Haryanto menjelaskan, pernah memprotes isi BAP itu langsung kepada penyidik. Tapi, hal tersebut tak digubris.

Maka dari itu, ia menegaskan dalam persidangan bahwa dirinya tak pernah memberi uang kepada Bupati Novi, pun sebaliknya. Meski, ia mengakui menyerahkan uang senilai Rp 50 juta pada Ajudan Bupati Nganjuk, M Izza Muhtadin.

"Uang (tasyakuran) itu saya serahkan ke Izza (ajudan bupati), (Bupati) Novi tidak pernah meminta (uang) yang dimaksud," ujarnya.

Senada, Camat Loceret, Bambang Subagyo menyatakan, saat memberikan keterangan dalam BAP, dia merasa dalam keadaan tertekan. Menurutnya, ketika pemberkasan, ia dianggap penyidik sudah menghambat dan memperlambat proses penyidikan.

"Saya tidak boleh merubah keterangan, padahal saya sudah komplain, tapi penyidik tidak mau (merubahnya). Selama itu (menyampaikan penyidikan), saya merasa tertekan oleh penyidik, terutama saat menyampaikan keterangan," tandasnya.

Ketika disinggung perihal uang Rp 20 juta dalam BAP yang menyatakan bila dirinya memberikan pada Novi, ia menampiknya. Subagyo mengaku, memang memberikan uang, tapi kepada ajudan bupati, M. Izza Muhtadin.

Sementara itu, Camat Pace, Dupriyono juga membantah beberapa keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) penyidik yang dibaca jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejari Nganjuk.

Dalam kesempatan tersebut, Dupriyono, mengakui memang pernah dimintai uang perihal tasyakuran. Namun, ia uang tasyakuran untuk kades dan paguyuban.

Menurutnya, proses serupa dinilai lumrah lantaran kerap terjadi sebelum masa kepemimpinan Novi. Dupriyono mencoba bertahan dengan jawaban tersebut didepan hadapan penyidik Bareskrim Polri.

Sayangnya, 3 orang penyidik itu justru membentaknya. Ia merasa terintimidasi. Meski, ia mengaku baru saja sembuh dari sakit lantaran terindikasi Covid-19.

Kendati, ia mengakui sempat dimintai uang oleh salah seorang kadesnya, Sugeng Purnomo sebesar Rp 50 juta. Alasannya, untuk tasyakuran sebagai camat.

"Saya menyerah karena diancam kalau tidak ngomong yang mengarahkan ke pak bupati, nanti hukuman saya akan diperberat. Saya sebenarnya sudah bertahan dengan jawaban itu (uang untuk tasyakuran), tapi oleh penyidik saya dibentak," bebernya.

Novi pun angkat bicara dan mengomentari kesaksian 5 orang camat tersebut. Novi menyatakan, memang tak pernah memerintahkan para camat untuk memberikan upeti atau uang kepadanya.

Novi mengaku, juga tak pernah berkomunikasi dengan ke-5 saksi itu. "Saya memang tidak pernah menerima atau memerintahkan soal uang itu," jawabnya..

Sementara itu, pengacara Bupati Nonaktif Nganjuk Novi Rahman Hidayat, Tis'at Afriyandi mengatakan, jika para saksi sudah menganulir keterangannya dalam BAP terkait dengan peran Bupati Nganjuk Novi. Sehingga, hal ini kembali menegaskan jika tidak ada uang yang mengalir pada Bupati Novi.

"Para saksi sudah menganulir pernyataannya dalam BAP. Dengan alasan adanya tekanan dari penyidik. Bahkan ada yang ingin merubah jawabannya tapi tidak diperbolehkan oleh penyidik. Sehingga ini menegaskan bahwa tidak ada uang yang mengalir pada Bupati Novi," katanya. (K3)