Memeta Ulang Wajah Ekonomi Aceh Setelah Satu Dekade

Banda Aceh, KabarKini.Co – FAJAR belum lagi terang tanah, ketika Bang Din sudah berdiri di sebuah lapak kecil yang menyelinap pada salah satu sudut Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh, Rabu awal Februari lalu.

Pagi itu udara masih lembap, menyisakan bau tanah basah yang berpadu dengan aroma cabe segar. Dari depan, lapak sederhana itu memancarkan warna-warni yang kontras; merah cabai menyala, hijau brokoli yang renyah, serta putih kol yang tersusun rapi dalam tumpukan.

Persis di seberangnya, seorang perempuan muda terbetik menyebut deretan daftar belanja sambil sesekali melirik secuil kertas. Seketika Bang Din mengangguk pendek. Sebagai pedagang, ia tak hanya hafal harga-harga, namun juga kebiasaan para pelanggan.

“Yang ini masih segar, baru turun subuh tadi,” katanya sambil mengangkat kol berdaun pucat kehijauan. Daunnya berlapis-lapis rapat, menyisakan embun tipis di sela lipatan. Sesekali ia menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan, lalu kembali ke aktivitasnya semula.

Bang Din adalah potret absurd pedagang kecil yang ada di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Ia tak peduli pada inflasi, apalagi angka pertumbuhan ekonomi yang berdengung di koran dan televisi. Baginya, ekonomi adalah soal sederhana, apakah sayur laku hari ini dan apakah dapur di rumah tetap berasap malam nanti.

Berdasarkan hasil pendataan sensus ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh pada tahun 2016 lalu, jumlah Usaha Mikro Kecil dan Usaha Menengah Besar di Provinsi Aceh sebanyak 426.881 unit yang tersebar dalam 13 kategori lapangan usaha di seluruh Aceh.

Dari jumlah itu, sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor yang termasuk dalam Kategori G menurut klasifikasi BPS menempati porsi dominan, yakni 193.981 unit usaha.

Termasuk di dalamnya pedagang pasar seperti Bang Din, pemilik toko kelontong, hingga pedagang kaki lima lainnya. Secara lebih spesifik, mereka berada dalam subkategori Perdagangan Eceran, yang mencakup penjualan barang konsumsi langsung kepada konsumen akhir. Sayangnya, data yang menjadi rujukan tersebut masih berasal dari sensus ekonomi sepuluh tahun lalu. Padahal, dalam satu dekade, wajah ekonomi telah berubah jauh.

BACA JUGA: Bukan Lagi Pertanian, Ini Lapangan Kerja yang Paling Mendominasi di Aceh Akhir Tahun 2025

Bagaimana tidak, saat ini transformasi digital telah merambah hingga ke pasar tradisional. Pembayaran nontunai kian lazim, layanan pesan antar terus bertumbuh, dan pola konsumsi masyarakat telah bergerak ke ruang-ruang daring. Dengan demikian, data lama tak lagi sepenuhnya memadai untuk membaca realitas baru ini.

Untuk memutakhirkannya, tentu dibutuhkan cacah terbaru, salah satunya melalui Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) sebagai langkah strategis untuk menyediakan basis data dasar seluruh kegiatan ekonomi yang ada di seluruh Indonesia.

Komentar