Aceh Besar,Kabarkini.co- Layanan penukaran uang baru menjelang Lebaran kembali menuai keluhan. Sejumlah warga mengaku kesulitan mengakses sistem pendaftaran daring yang diterapkan Bank IndonesiaPerwakilan Aceh. Antrean digital yang panjang dan pembatasan kuota dinilai tidak ramah bagi masyarakat umum.
Salah satu titik penukaran berlangsung di Masjid Jami’ Lambaro, Aceh Besar. Di lokasi ini, layanan kas keliling BI melayani warga sesuai jadwal yang telah ditentukan melalui sistem pendaftaran online.

Liza, salah seorang warga, mengatakan dirinya harus menunggu hingga 17 jam hanya untuk mendapatkan slot penukaran uang melalui aplikasi online.
“Pertama sekali saya daftar itu sampai 17 jam. Saya buka terus untuk daftar di online,” kata Liza saat ditemui di lokasi penukaran uang di Masjid Jami’ Lambaro.
Ia menukarkan uang sebesar Rp2.800.000 untuk kebutuhan Lebaran dan keperluan harian lainnya. Meski begitu, Liza mengakui pelayanan di lokasi relatif tertib karena sudah berbasis jadwal.
“Saya jadwalnya jam 12 sampai jam 2, jadi datang memang di jadwalnya. Jadi nggak perlu antre lama di sini,” ujarnya.

Amatan kabarkini.co di lokasi menunjukkan warga mulai berdatangan sejak pagi dengan membawa bukti pendaftaran digital. Petugas melakukan verifikasi kode pemesanan sebelum warga diarahkan ke meja penukaran. Situasi terpantau tertib tanpa antrean panjang mengular, namun sejumlah warga mengaku kesulitan saat tahap pendaftaran.
Menurut Liza, persoalan utama justru ada di tahap awal. Sistem antrean berbasis jam dinilai belum familiar bagi sebagian masyarakat.
“Pendaftarannya agak kurang efektif. Waktunya terlalu lama. Misalnya orang lagi sibuk, nggak bisa mantau terus,” katanya.
Selain soal teknis antrean, Liza juga berharap jumlah uang baru yang disediakan lebih banyak. Ia menilai peredaran uang pecahan kecil seperti Rp10.000 dan Rp20.000 di masyarakat banyak yang sudah lusuh.
“Harapannya sebenarnya lebih banyak uang baru. Karena selama ini kita banyak kali dapat uang jelek. Jadi setidaknya di hari raya bisa dapat uang baru,” ucapnya.
Penukaran uang baru menjelang Idulfitri memang menjadi tradisi tahunan. Permintaan meningkat tajam, sementara kuota yang disediakan terbatas. BI menerapkan sistem pendaftaran daring untuk menghindari kerumunan dan praktik percaloan. Namun di lapangan, mekanisme digital ini justru menyisakan persoalan akses dan literasi teknologi.
Keluhan seperti yang disampaikan Liza menunjukkan bahwa transformasi layanan publik berbasis digital belum sepenuhnya diiringi kesiapan sistem dan pengguna. Alih-alih mempermudah, antrean online yang berjam-jam justru menjadi beban baru bagi warga yang hanya ingin menukar uang demi tradisi hari raya.




Komentar