Gaduh Di Medsos, DPRD Jatim Minta Polemik Patung Dewa Perang Di Tuban Dihentikan

Kabarkini.co: Keberadaan patung dewa  perang Kong Cok Kwan Sing Tee Koen di Tuban yang dalam beberapa hari belakangan ini mengundang gaduh di medsos  sangat disesalkan berbagai pihak, salah satunya dari DPRD Jatim. Ketua fraksi PAN DPRD Jatim AGus Maimun mengatakan pihaknya menyayangkan munculnya polemic keberadaan dewa perang Kong Cok Kwan Sing Tee Koen di Klenteng KwanSing Bio di  Tuban.Pasalnya polemic tersebut muncul dan menjadi viral di medsos bukan berasal dari Tuban sendiri  melainkan dari luar Tuban.

“Toleransi beragama di Tuban itu sangat tinggi. Munculnya polemik itu justru diluar Tuban yang tentunya dibumbui hal-hal yang menjurus ke SARA. Padahal tak sesuai dengan fakta yang ada. Yang meramaikandi medsos tersebut tak  tahu kondisi sebenarnya patung tersebut,”ungkap politisi dari Tuban ini saat ditemui dikantor PAN Jatim , malam, Rabu (2/8).

Agus Maimun mengatakan dewa perang KongCok  KwanSing Tee Koen  tersebut bagi umat Tri Darma Tuban dianggap sebagai dewa kejujuran.”Mereka menyembahnya sebagai dewa kejujuran sehingga tak bisa melarangnya,”lanjutnya.

Tak hanya itu, kata Agus Maimun, patung tersebut didirikan di dalam Klenteng dan tidak bisa terlihat dari luar.”Tak benar kalau mau didirikan di kota Tuban atau dipinggir sepanjang pantai di Tuban. Posisinya ada di dalam klenteng dan perlu diketahui juga klenteng ini berusia ratusan tahun sama dengan patungnya yaittu 1857 tahun,”jelasnya.

Agus  Maimun mengatakan polemik tersebut muncul karena adanya permasalahan IMB dalam pendiriannya karena  di dalam yayasan pengelola klenteng sedang pecah.”Hanya masalah di IMB kok dibumbui dengan hal-hal yang negatif bahkan SARA,”jelasnya.

Politisi yang juga anggota Komisi B DPRD Jatim ini mengatakan dibandingkan dengan patung-patung lainnya yang di Indonesia, patung yang ada di Tuban tersebut tak seberapa besar.

”Tingginya cuma 30 meter  dipersoalkan. Padahal dari luar klenteng saja tak terlihat. Kalau dikatakan terbesar se Asia Tenggara oleh MURI itu untuk patung sejenis. Banyak patung lainnya yang lebih besar dari patung tersebut,”terangnya. (yud)