Hampir 9% Sarjana di Aceh Menganggur: Gelar Tinggi, Peluang Minim

Lulusan perguruan tinggi menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi

Foto : Ilustrasi Sarjana Pencari Kerja


Banda Aceh. KabarKini.Co –
Tingkat pengangguran di
Aceh memang turun tipis menjadi 5,60 persen pada November 2025. Namun di balik klaim penurunan itu, ada fakta yang lebih tajam: lulusan perguruan tinggi menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi.

Data terbaru Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh menunjukkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 mencapai 8,68 persen. Artinya, dari setiap 100 angkatan kerja berpendidikan sarjana ke atas, hampir sembilan orang belum mendapatkan pekerjaan.

Angka itu lebih tinggi dibanding lulusan SMA (6,92 persen), Diploma I/II/III (6,13 persen), bahkan jauh melampaui lulusan SD ke bawah yang hanya 2,59 persen.

Gelar tak lagi jadi jaminan

Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: apakah pendidikan tinggi di Aceh selaras dengan kebutuhan pasar kerja?

Struktur ketenagakerjaan menunjukkan sektor pertanian masih menyerap 38,75 persen tenaga kerja, disusul perdagangan 14,57 persen. Mayoritas pekerjaan tersedia di sektor yang tidak mensyaratkan pendidikan tinggi.

BACA JUGA : Naik, Utang Luar Negeri Indonesia Akhir Tahun 2025 Capai 431,7 Miliar Dolar AS

Sementara itu, sektor formal hanya menyerap 36,20 persen pekerja. Sisanya, 63,80 persen, berada di sektor informal .Artinya, ruang kerja yang sesuai dengan kualifikasi sarjana relatif terbatas.

Kota penuh, lapangan kerja sempit

Tekanan juga terlihat di wilayah perkotaan. Tingkat pengangguran kota mencapai 8,12 persen lebih dari dua kali lipat dibanding perdesaan yang 3,85 persen  .

Kota menjadi tujuan utama lulusan perguruan tinggi. Namun tanpa ekspansi sektor jasa profesional, industri kreatif, teknologi, dan manufaktur bernilai tambah, gelar akademik justru berubah menjadi beban statistik.

Jika tren ini berlanjut, Aceh menghadapi risiko “pengangguran terdidik” yang semakin melebar  kelompok muda berpendidikan tinggi yang produktivitasnya tidak terserap.

Gelar akademik seharusnya menjadi tiket mobilitas sosial. Namun di Aceh hari ini, bagi sebagian sarjana, ijazah justru menjadi penanda antrean panjang mencari kerja.(***)

Komentar