Banda Aceh,KabarKini.co– Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat inflasi di Aceh pada Maret 2026 sebesar 0,04 persen secara bulanan (month-to-month). Angka ini menunjukkan kenaikan harga yang relatif tipis dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Aceh mencapai 5,31 persen. Meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Kenaikan inflasi bulanan terutama didorong oleh kelompok pengeluaran penyediaan makanan dan minuman/restoran dengan andil sebesar 0,08 persen. Komoditas utama yang menyumbang inflasi pada kelompok ini adalah nasi dengan lauk.
Selain itu, kelompok transportasi juga memberikan andil signifikan terhadap inflasi dengan kenaikan 0,70 persen, disusul kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,25 persen.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi, seperti makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,12 persen, serta pakaian dan alas kaki yang turun 0,28 persen. Penurunan harga juga terjadi pada komoditas seperti tomat, cabai merah, dan ikan bandeng.
Berdasarkan komoditas, penyumbang inflasi terbesar secara bulanan antara lain udang basah (0,09 persen), nasi dengan lauk (0,05 persen), telur ayam ras (0,04 persen), bensin (0,04 persen), dan ikan tongkol (0,04 persen).
Sementara secara tahunan, inflasi terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 2,03 persen. Komoditas yang dominan memicu inflasi antara lain beras, rokok kretek mesin, daging ayam ras, minyak goreng, hingga telur ayam ras.
Dari sisi wilayah, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 6,07 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 4,84 persen. Kota Banda Aceh sendiri mencatat inflasi sebesar 5,20 persen secara tahunan.
Secara umum, BPS menilai inflasi Aceh pada Maret 2026 masih dalam kondisi terkendali, dengan tekanan harga yang relatif ringan di tengah fluktuasi sejumlah komoditas pangan dan jasa.



