Kabarkini.co, BANDA ACEH – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Aceh menghadapi ujian serius. Dalam waktu berdekatan, dugaan keracunan menimpa siswa di dua kabupaten. Insiden itu bukan hanya soal makanan yang diduga tercemar, tetapi juga menyentuh pertanyaan lebih besar: apakah tata kelola dan pengawasan anggaran program sudah memadai?
Kasus pertama terjadi di Kabupaten Bireuen. Ratusan siswa tingkat TK dan SD dilaporkan mengalami muntah dan diare beberapa jam setelah mengonsumsi paket MBG. Sampel makanan kemudian diamankan dan diuji oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Aceh untuk memastikan penyebabnya.
Belum tuntas evaluasi di Bireuen, insiden serupa muncul di Kabupaten Aceh Selatan. Belasan siswa dari jenjang PAUD hingga SMA mengalami mual, muntah, dan nyeri perut setelah menyantap makanan program tersebut.
Mengutip laporan Larasnews.com Sekretaris Dinas Kesehatan Aceh Selatan Faizzah Abbas, mengatakan dari total 28 SPPG yang terdaftar di Kabupaten Aceh Selatan, baru tiga yang telah dinyatakan layak beroperasi dan mengantongi SLHS. Selebihnya masih dalam proses pemenuhan persyaratan.
Anggaran Besar, Tanggung Jawab Besar
MBG merupakan salah satu program prioritas nasional dengan alokasi anggaran besar dari APBN. Implementasinya dilakukan bertahap, dengan cakupan penerima yang terus diperluas.
Dalam skema sebesar itu, terdapat beberapa titik krusial :
Pertama, penentuan harga per porsi yang berpengaruh langsung pada kualitas bahan baku dan sistem penyimpanan.
Kedua, pengawasan dan sertifikasi dapur penyedia. Ketiga, rantai distribusi dan kontrol suhu sebelum makanan dikonsumsi siswa.
Produksi massal berarti risiko massal. Jika satu tahapan tidak diawasi ketat, dampaknya dapat menjangkau ratusan anak sekaligus.




Komentar