Lhokseumawe, KabarKini.Co – Anak perusahaan PT Pertamina Gas yaitu PT Perta Arun Gas (PAG) secara resmi mengumumkan perubahan dalam jajaran dewan komisaris perusahaan. Model sekaligus artis peran yang populer dalam sinetron “Sharmilla”, Helmalia Jelita Putri, ditunjuk untuk mengisi posisi sebagai Komisaris pada anak perusahaan subholding gas Pertamina tersebut.
Nama Helmalia Putri selama ini memang lebih lekat dengan sorot lampu panggung dan layar kaca. Namun, medio Januari 2026 menjadi titik balik baru bagi perempuan kelahiran Banda Aceh, 13 April 1982 tersebut. Melalui Surat Keputusan Pemegang Saham Secara Sirkuler tertanggal 26 Januari 2026, ia resmi mengemban amanah sebagai Komisaris PT Perta Arun Gas (PAG).
Tak pelak, penunjukan ini membawa perspektif baru dalam jajaran pengawasan anak perusahaan subholding gas Pertamina tersebut. Bagi artis yang akrab disapa Putri atau Puput ini, peran tersebut bukan sekadar jabatan administratif, melainkan sebuah tanggung jawab strategis untuk memastikan perusahaan tetap berjalan pada koridor tata kelola yang sehat dan transparan.
BACA JUGA: Pemprov Aceh Resmi Keluarkan Kebijakan WFH bagi ASN Setiap Jumat
“Agenda prioritas saya adalah memastikan perusahaan menjalankan mandatnya secara sehat, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Helmalia saat berbincang mengenai peran barunya kepada KabarKini.Co, Senin (13/4). Helmalia menekankan bahwa fokus utamanya terletak pada penguatan fungsi pengawasan terhadap strategi bisnis, manajemen risiko, serta penerapan Good Corporate Governance (GCG).

Meski berpindah haluan dari industri kreatif ke sektor energi yang padat modal dan teknologi, Helmalia melihat latar belakang pendidikannya di bidang komunikasi sebagai modal krusial. Baginya, GCG bukan hanya soal sistem di atas kertas, melainkan soal tone from the top dan budaya organisasi.
Puput berkeyakinan bahwa komunikasi yang tepat akan memastikan kebijakan perusahaan dipahami hingga ke level operasional terbawah. “Perusahaan energi tidak bisa berjalan tanpa social license to operate. Karena itu, hubungan dengan pemangku kepentingan harus dibangun melalui dialog dan keterbukaan,” tambahnya.
Menanggapi transisi kariernya, Helmalia bersikap pragmatis namun tegas. Dirinya memandang peran komisaris sebagai fungsi pengawasan strategis dan integritas, bukan teknis operasional. Pengalaman panjang di ruang publik justru dianggapnya sebagai instrumen untuk memperkuat komunikasi korporasi, selama batasan etika dan konflik kepentingan tetap dijaga dengan disiplin tinggi.
Visi untuk Tanah Kelahiran
Sebagai putri daerah, Helmalia tidak menampik adanya ikatan emosional antara posisi barunya dengan tanah kelahirannya di Aceh. Perta Arun Gas, yang mengoperasikan hub regasifikasi LNG di Lhokseumawe, diharapkan tidak hanya menjadi tulang punggung energi nasional, tetapi juga mitra pembangunan bagi masyarakat Serambi Mekkah.
Karena itu, dirinya memimpikan adanya peluang kerja dan rantai ekonomi daerah, peningkatan kapasitas SDM lokal serta pemberdayaan UMKM yang lebih masif melalui keberadaan perusahaan.
Di sela-sela pembicaraan formal mengenai transisi energi dan infrastruktur LNG, kerinduan Puput pada akar budayanya tetap tidak berubah. Saat ditanya mengenai masakan khas Aceh yang menjadi kegemarannya, Puput langsung mengenang masakan yang selalu disajikan mendiang ibundanya. “Makanan Aceh semua favorit saya, dari Timpan hingga Pliek U,” tuturnya hangat.
Bagi Helmalia, kembali berkontribusi untuk Aceh melalui Perta Arun Gas adalah sebuah perjalanan “pulang” sekaligus membawa kompetensi profesionalnya untuk membangun Aceh, sembari menjaga integritas yang menjadi napas baru dalam kariernya.



