Spanduk "Khofifah Menang AHY Presiden" Jadi Polemik

Spanduk "Khofifah Menang AHY Presiden" Jadi Polemik

- Demokrat Jatim bantah bukan pemilik dan pemasang

SURABAYA - Sejumlah titik jalan utama di kota Surabaya dan Sidoarjo sejak kemarin (20/3/2018) muncul spanduk bertuliskan ‘Khofifah Menang AHY Presiden’. Spanduk bergambar Khofifah dan Agus Harimurty Yudhoyono (AHY) lengkap dengan slogan ‘S14P’ khas Partai Demokrat itu diduga kuat dipasang untuk tujuan dan kepentingan tertentu.

Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Timur Renville Antonio memastikan bahwa spanduk itu bukan dipasang oleh Partai Demokrat. Meskipun faktanya, banyak sekali masyarakat Jawa Timur yang ingin AHY maju di pemilihan presiden 2019 mendatang.

Partai Demokrat Jatim memastikan munculnya spanduk itu tidak berkaitan dengan Partai Demokrat baik structural maupun kader-kader di daerah. “Kami tidak tahu siapa yang memasang spanduk itu, namun Kami juga tidak bisa menahan dukungan-dukungan yang muncul terhadap sosok Mas AHY,” jelas Renville Antonio, saat dikonfirmasi, Rabu (21/3/2018).

Menurut Renville, model strategi semacam ini adalah cara lama yang pernah dilakukan pihak-pihak tertentu dengan tujuan dan maksud tertentu pula. Ia ingat ketika zaman Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum dan Nazarudin terkena masalah, muncul atribut-atribut yang dipasang untuk menjatuhkan Partai Demokrat.

Nah, di Pilgub Jatim ini, cara itu kembali dilakukan meskipun masyarakat luas saat ini sudah lebih cerdas dan tidak begitu saja percaya. “Ada pihak-pihak yang iri dan tidak suka dengan kesolidan Partai Demokrat, khususnya di Pilgub Jatim ini. Apalagi di berbagai hasil survey, Partai Demokrat terbukti paling solid memenangkan pasangan Khofifah-Emil,” dalih Sekretaris Pemenangan pasangan calon gubernur Khofifah-Emil.

Ia menjamin seluruh kader Partai Demokrat baik di tingkat provinsi (DPD), DPC hingga PAC (Kecamatan) paham terhadap cara kerja partai Demokrat di pilkada ini. Apalagi dalam Rapimnas Partai Demokrat beberapa waktu lalu di Jakarta, sama sekali tidak membahas perihal pemilihan presiden 2019.

“Rapimnas Demokrat diputuskan, tidak akan membahas Pilpres sampai dengan 171 pilkada serentak selesai,” tandasnya. Sedangkan untuk AHY, didaulat sebagai ketua Kosgama (komando Tugas Bersama) Partai Demokrat yang tugasnya memenangkan calon-calon kepala daerah yang diusung Partai Demokrat secara nasional.

Salam 171 pilkada serentak tahun 2018 ini, sesuai arahan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, memiliki presentase target kemenangan yang cukup besar. Yakni menang 35% secara nasional dan di Jawa Timur Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Soekarwo menargetkan menang 75% dari 18 pilkada dan 1 pilgub.

“Kerja kami sekarang ini focus di pilkada, tidak ada yang lain, jadi kami tidak terpengaruh dengan spanduk-spanduk semacam itu,” pungkas Renville.

Terpisah, Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Surabaya berjanji akan menertibkan secepatnya alat peraga kampanye (APK) berupa spanduk itu. Sebab sesuai dengan ketentuan itu jelas melanggar. "Itu melanggar. Kami segera menertibkannya. Kalau yang spanduk itu biar panwas kecamatan yang menertibkan," kata Hadi ketua Panwaskot Surabaya.

Di tegaskan Hadi, spanduk tersebut melanggar pasal 276 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, dimana partai politik peserta Pemilu 2019 dilarang melakukan kampanye sebelum dimulainya kampanye.
Kendati demikian, lanjut dia, untuk menertibkan spanduk itu, pihaknya akan sesuai prosedur dengan mengirim surat terlebih dahulu kepada pihak yang memasang spanduk tersebut.

"Kalau tidak ada niatan untuk mencopot spanduk tersebut, maka pihak panwas kecamatan akan mencopot sendiri alat peraga kampanye liar tersebut dibantu aparat Satpol PP," tegasnya.

Sementara itu, pengamat LIPI Siti Zuhro menilai pencalonan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jawa Timur memang sangat menguntungkan Partai Demokrat pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Pasalnya, mantan Menteri Sosial ini memiliki suara Muslimat NU yang bisa menjadi modal suara bagi Agus Harimurti Yudoyono (AHY).

"Politik itu kan bukan makan siang gratis. Jadi memang harus saling menguntungkan secara politik. Itulah politik, sarat dengan kepentingan," ungkap perempuan berkaca mata ini.

Di tambahkan Siti Zuhro, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Ketua Umum Demokrat punya kepentingan, begitu juga dengan Khofifah. Hal inilah yang membuat Khofifah mau berkoalisi dengan Soekarwo sebagai ketua Demokrat Jatim yang pernah menjadi musuh bebuyutan dan mengalahkannya di dua kali Pilgub Jatim. "Kesolidan partai Demokrat mendukung Khofifah memang baru kali pertamanya," ujarnya.

Ilmuwan politik Alumnus Flinders University Australia ini menjelaskan, Partai Demokrat mengusung Khofifah memang sebagai alat bagi AHY. Hal ini lantaran Khofifah butuh kendaraan politik untuk Pilgub Jatim 2018.
"Khofifah kan tidak berpartai. Dalam hal ini tidak menutup kemungkinan SBY tertarik dengan dukungan Muslimat nanti di Pilpres," imbuhnya. (Pil)