Banda Aceh,Kabarkini,co – Upaya mendorong masa depan lingkungan yang berkelanjutan di Aceh semakin menguat. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menjalin kolaborasi strategis dengan Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar, dalam mempersiapkan seminar dan lokakarya (semiloka) inovatif yang akan digelar di Kota Sabang pada akhir April 2026.
Audiensi yang berlangsung di Meuligoe Wali Nanggroe, Jumat (17/4/2026), menjadi langkah awal membangun sinergi antara masyarakat sipil dan pemangku kepentingan adat dalam merumuskan arah kebijakan lingkungan yang lebih progresif. Pertemuan tersebut turut didampingi Staf Khusus Wali Nanggroe, Dr. Muhammad Raviq, serta difasilitasi oleh Kabag Kerjasama dan Humas, Zulfikar Idris.
Direktur Eksekutif WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, yang memimpin rombongan, menyampaikan bahwa semiloka ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang tidak hanya membahas isu lingkungan, tetapi juga menghadirkan perspektif baru dalam pengelolaan kawasan strategis.
Salah satu fokus utama yang akan diangkat adalah evaluasi terhadap Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), yang telah beroperasi selama lebih dari dua dekade. Menurut Ahmad, momentum ini penting untuk mengkaji ulang dampak kebijakan terhadap keberlanjutan lingkungan sekaligus merumuskan pendekatan yang lebih adaptif di masa depan.
“Kami ingin menghadirkan forum yang tidak sekadar diskusi, tetapi juga melahirkan gagasan segar dan solusi konkret bagi pengelolaan lingkungan di Aceh,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).
WALHI Aceh juga secara resmi mengundang Wali Nanggroe sebagai keynote speaker. Kehadiran tokoh adat tersebut dinilai penting untuk memberikan pandangan strategis yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dengan tantangan global di era modern.
Menanggapi hal tersebut, Wali Nanggroe menyambut baik inisiatif tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi dalam forum tersebut. Ia menilai semiloka ini sebagai langkah konstruktif dalam memperkuat arah kebijakan lingkungan berbasis nilai dan keberlanjutan.
“Insya Allah pada prinsipnya saya bersedia meluangkan waktu untuk tanggal 28 April nanti,” ujarnya.
Dengan mengusung semangat kolaborasi dan inovasi, kegiatan di Sabang ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya gagasan-gagasan baru yang mampu memperkuat keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan di Aceh.



