Banda Aceh, Kabarkini.co – Perjalanan menuju Tanah Suci tak selalu lahir dari kehidupan yang mapan. Bagi Iskandar atau yang akrab disapa Agon, keberangkatan hajinya tahun ini bersama istri tercinta adalah buah dari penyesalan, perjuangan panjang, dan pesan terakhir sang anak yang tak pernah ia lupakan.
Pria 58 tahun asal Gayo Lues, Aceh, itu kini tergabung dalam jamaah calon haji Kloter 8 Embarkasi Aceh. Di balik wajahnya yang tampak tegar, tersimpan kisah hidup keras yang perlahan berubah menjadi perjalanan spiritual penuh haru.
Agon mengaku, di masa mudanya ia dikenal sebagai sosok keras yang kerap menjaga keamanan pasar dan terminal di daerahnya. Dunia jalanan dan kehidupan kasar pernah begitu lekat dalam kesehariannya.
Namun hidupnya berubah setelah sang anak meninggal dunia.
Sebelum wafat, anak Agon yang pernah belajar di pesantren tahfiz Al-Quran dan menghafal 29 juz sempat meninggalkan pesan sederhana namun membekas dalam hati ayahnya, menabunglah agar bisa berangkat haji.
Pesan itu menjadi titik balik hidup Agon.
Sejak saat itu, ia mulai menyisihkan penghasilannya sedikit demi sedikit. Dari beternak lembu, menjadi buruh serabutan, hingga pekerjaan apa pun yang bisa menghasilkan uang halal, semua dijalani demi satu tujuan menjadi tamu Allah di Tanah Suci.
“Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Beli anak lembu, dibesarkan lalu dijual lagi. Yang penting niat,” ujar Agon dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan itu tentu tidak mudah. Bertahun-tahun ia menahan keinginan pribadi demi menyimpan uang untuk biaya haji. Namun Agon percaya, panggilan ke Baitullah bukan hanya milik orang kaya.
“Kalau Allah sudah panggil, siapa saja bisa berangkat,” katanya lirih.
Kini, setelah penantian panjang, Agon akhirnya bersiap menginjakkan kaki di Tanah Suci. Keberangkatannya bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga simbol perubahan hidup dan bukti bahwa harapan bisa tumbuh dari masa lalu yang paling kelam sekalipun.
Di akhir ceritanya, Agon berharap kisah hidupnya bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda agar tidak menyerah dengan keadaan.
Dari kerasnya kehidupan pasar hingga menjadi tamu Allah, Agon membuktikan bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja.



