Aceh Tengah, Kabarkini.co – Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, meninjau langsung sejumlah lokasi terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Aceh, Senin (20/4/2026), guna memastikan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah tersebut.
Kunjungan kerja Mendagri ke wilayah Tanoh Gayo ini turut didampingi Kepala Pos Komando Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Safrizal ZA, serta Wakil Gubernur Aceh Fadhlullahdan Bupati Bener Meriah Tagore Abubakar.
Rombongan tiba di Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah, sebelum meninjau jembatan bailey yang dibangun di atas lokasi longsor akibat hujan intens pada November 2025. Mendagri memastikan infrastruktur darurat tersebut menjadi solusi sementara untuk menjaga konektivitas masyarakat.
Selanjutnya, Tito Karnavian mengunjungi Huntara Tunyang di Kecamatan Timang Gajah, yang saat ini menampung 222 kepala keluarga penyintas banjir dan longsor. Dalam arahannya di hadapan warga, Mendagri menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
“Pemerintah bekerja keras agar masyarakat bisa segera kembali memiliki tempat tinggal yang layak,” ujar Tito.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan tiga skema bantuan perumahan bagi warga terdampak, yakni pembangunan mandiri dengan bantuan Rp60 juta, pembangunan oleh pemerintah melalui BNPB, serta relokasi terpusat bagi warga yang kehilangan lahan atau tinggal di kawasan rawan.
Usai dari Huntara Tunyang, Mendagri melanjutkan peninjauan ke lokasi erosi bawah permukaan di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Dari laporan petugas, erosi masih terus terjadi meski berbagai langkah penanganan teknis telah dilakukan, termasuk pengalihan jalur irigasi.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat dalam memastikan penanganan bencana hidrometeorologi di Sumatra berjalan optimal dan terkoordinasi.
Sementara itu, Safrizal menyampaikan bahwa pemerintah telah menyusun rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi secara terpadu, dengan target penyelesaian dalam kurun waktu hingga tiga tahun.
“Diperlukan kolaborasi semua pihak agar proses pemulihan dapat berjalan cepat dan tuntas,” ujarnya.



