Banda Aceh, Kabarkini.co – Dana Wakaf Baitul Asyi menjadi salah satu aset wakaf paling dikenal di kalangan masyarakat Aceh, terutama karena manfaatnya yang dirasakan langsung oleh jamaah haji asal Tanah Rencong saat berada di Arab Saudi. Wakaf ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan hingga kini masih memberikan bantuan kepada jamaah Aceh yang menunaikan ibadah haji di Makkah.
Wakaf Baitul Asyi bermula dari seorang saudagar asal Aceh bernama Habib Bugak Asyi pada abad ke-19. Ia mewakafkan sejumlah properti di kawasan strategis dekat Masjidil Haram, Makkah, untuk kepentingan masyarakat Aceh yang datang berhaji maupun menuntut ilmu di Tanah Suci.
Dalam perkembangannya, aset wakaf tersebut dikelola oleh pemerintah Arab Saudi melalui lembaga terkait. Nilai manfaat dari pengelolaan aset kemudian dibagikan kepada jamaah haji Aceh dalam bentuk bantuan dana setiap musim haji.
Tahun ini, jemaah haji asal Aceh kembali menerima dana Wakaf Baitul Asyi atau Wakaf Habib Bugak sebesar 2.000 riyal Saudi per orang. Jika dikonversi ke rupiah, setiap jamaah memperoleh sekitar Rp9,2 juta. Bantuan tersebut diberikan kepada jamaah haji embarkasi Aceh yang berada di Makkah untuk membantu kebutuhan selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Selain memiliki nilai ekonomi, Wakaf Baitul Asyi juga dianggap sebagai simbol hubungan sejarah antara masyarakat Aceh dengan Tanah Suci. Sejak masa Kesultanan Aceh, hubungan keagamaan dan pendidikan antara Aceh dan Makkah memang telah terjalin erat.
Setiap tahun, penyaluran dana Wakaf Baitul Asyi kerap menjadi perhatian publik karena jumlah penerimanya mencapai ribuan jamaah. Pemerintah Aceh bersama otoritas terkait biasanya turut mendampingi proses distribusi agar berjalan tertib dan tepat sasaran.
Keberadaan Wakaf Baitul Asyi dinilai menjadi bukti besarnya perhatian ulama dan saudagar Aceh terdahulu terhadap keberlangsungan ibadah umat Islam. Hingga kini, manfaat wakaf tersebut masih terus dirasakan dan menjadi kebanggaan masyarakat hajiacehAceh.



