Ketika dunia sepak bola menyaksikan bagaimana negara kecil Cape Verde (Tanjung Verde) hampir menyingkirkan juara bertahan Argentina di babak gugur Piala Dunia 2026, publik Indonesia seharusnya tidak hanya menikmati dramanya. Pertandingan yang berakhir 3-2 melalui perpanjangan waktu itu justru menyajikan pelajaran strategis bagi Indonesia. Negara kepulauan berpenduduk hanya sekitar 600 ribu jiwa mampu memaksa salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia bekerja hingga menit-menit terakhir. Cape Verde memang tersingkir, tetapi mereka pulang sebagai pemenang dalam membangun sistem sepak bola nasional.

Perbandingan tersebut terasa kontras. Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk, basis penggemar sepak bola yang luar biasa besar, kompetisi profesional yang terus berkembang, serta dukungan pemerintah yang semakin kuat. Namun selama puluhan tahun, mimpi tampil di Piala Dunia selalu terasa jauh. Sementara itu, Cape Verde membuktikan bahwa ukuran negara bukanlah faktor penentu utama keberhasilan.

BACA JUGA: Kisah Haru Vozinha, Kiper 40 Tahun yang Mengguncang Piala Dunia

Keberhasilan Cape Verde bukanlah hasil keberuntungan. Negara itu telah bertahun-tahun membangun fondasi sepak bola melalui pembinaan usia dini, pemanfaatan diaspora, peningkatan kualitas pelatih, serta integrasi pemain yang berkarier di berbagai liga Eropa. Hampir seluruh pemain utama mereka berkembang dalam ekosistem sepak bola Portugal, Prancis, Belanda, dan Belgia sebelum memperkuat tim nasional. Dengan kata lain, mereka menjadikan globalisasi sebagai kekuatan nasional.

Indonesia sebenarnya mulai menempuh jalan yang hampir serupa. Program naturalisasi, peningkatan kualitas kompetisi, pembangunan pusat latihan nasional, hingga kerja sama internasional menunjukkan adanya perubahan paradigma. Di bawah kepemimpinan Erick Thohir di Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, reformasi tata kelola mulai terlihat. Prestasi tim nasional dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan tren yang lebih positif dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Namun, obsesi menuju Piala Dunia tidak boleh berhenti pada euforia hasil pertandingan. Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari kualitas kompetisi usia muda, konsistensi pembinaan daerah, infrastruktur latihan, sport science, hingga pengembangan pelatih. Negara-negara kecil seperti Cape Verde justru unggul karena mampu menjaga kesinambungan kebijakan dalam jangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil instan.

Pelajaran penting lainnya adalah efektivitas. Cape Verde tidak memiliki liga domestik yang mewah ataupun anggaran yang besar. Mereka memaksimalkan sumber daya yang dimiliki. Setiap pemain yang berkembang di luar negeri tetap dipandang sebagai aset nasional. Pendekatan ini menghasilkan tim yang disiplin secara taktik, kuat secara mental, dan mampu bersaing menghadapi negara-negara elite.

Indonesia memiliki modal yang bahkan lebih besar. Bonus demografi menghasilkan jutaan anak muda yang mencintai sepak bola. Hampir setiap daerah memiliki kompetisi lokal dan budaya sepak bola yang hidup. Dukungan sponsor, media, hingga industri hiburan juga jauh lebih kuat dibandingkan Cape Verde. Persoalannya bukan kekurangan potensi, melainkan bagaimana mengelola potensi tersebut menjadi prestasi.

Dalam perspektif pembangunan olahraga, sepak bola sesungguhnya merupakan investasi strategis. Negara-negara yang berhasil tampil konsisten di Piala Dunia tidak hanya memperoleh prestise internasional, tetapi juga keuntungan ekonomi melalui industri olahraga, pariwisata, investasi, hak siar, hingga diplomasi. Sepak bola telah menjadi instrumen soft power yang efektif untuk membangun citra negara.

Karena itu, obsesi Indonesia menuju Piala Dunia semestinya ditempatkan sebagai proyek nasional lintas sektor. Kementerian, pemerintah daerah, dunia pendidikan, akademi, klub profesional, hingga sektor swasta perlu bergerak dalam satu ekosistem. Target lolos ke Piala Dunia tidak cukup disandarkan pada kemampuan tim nasional senior, melainkan harus dibangun sejak pemain berusia belasan tahun.

Pertandingan Cape Verde melawan Argentina memperlihatkan bahwa kesenjangan kualitas dapat diperkecil melalui organisasi permainan, disiplin, dan keberanian. Bahkan pelatih Argentina, Lionel Scaloni, mengakui timnya dipaksa bekerja sangat keras menghadapi lawan yang di atas kertas jauh lebih lemah. Pengakuan tersebut menjadi penghormatan terhadap kualitas sistem yang dibangun Cape Verde.

Indonesia tidak perlu meniru Cape Verde secara utuh. Yang perlu ditiru adalah konsistensi berpikir jangka panjang. Negara kecil itu tidak pernah memiliki ambisi menjadi juara dunia dalam waktu singkat. Mereka membangun fondasi, memperbaiki pembinaan, memanfaatkan diaspora, lalu menuai hasil secara bertahap hingga akhirnya tampil kompetitif di panggung terbesar sepak bola dunia.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Cape Verde bukanlah tentang bagaimana mereka kalah dari Argentina, melainkan bagaimana mereka berhasil menghapus batas antara negara besar dan negara kecil dalam sepak bola. Di lapangan hijau, yang menentukan bukan jumlah penduduk, luas wilayah, atau besarnya ekonomi nasional, melainkan kualitas tata kelola, keberlanjutan pembinaan, dan keberanian bermimpi.

Indonesia memiliki semua prasyarat untuk mengikuti jejak tersebut, bahkan melampauinya. Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar obsesi menuju Piala Dunia, tetapi disiplin nasional untuk membangun ekosistem sepak bola yang profesional selama puluhan tahun. Jika Cape Verde mampu membuat juara dunia ketar-ketir hingga babak tambahan waktu, maka tidak ada alasan Indonesia tidak dapat menjadikan Piala Dunia sebagai target yang realistis pada dekade mendatang. Obsesi hanya akan menjadi mimpi jika berhenti sebagai slogan, tetapi akan berubah menjadi sejarah apabila didukung oleh strategi, konsistensi, dan tata kelola yang benar. (*)