Dari Gampong Jeulingke ke Universitas Indonesia : Merawat Tradisi, Membangun Gampong Digital
Oleh: H. Zulhan Hanafiah, S.Kom., Keuchik Gampong Jeulingke.
Kemajuan sebuah gampong pada era digital tidak lagi hanya ditentukan oleh panjang jalan yang dibangun atau megahnya kantor pemerintahan. Masa depan gampong juga ditentukan oleh kemampuan pemimpinnya mengelola data, memanfaatkan teknologi, dan tetap menjaga nilai-nilai sosial yang menjadi identitas masyarakat. Digitalisasi bukan sekadar soal aplikasi atau jaringan internet, melainkan tentang menghadirkan pelayanan publik yang lebih cepat, transparan, dan akuntabel tanpa meninggalkan budaya musyawarah yang telah diwariskan turun-temurun.
Keyakinan itu semakin menguat ketika saya mendapat kesempatan mengikuti program Kepala Desa Masuk Kampus yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri di Universitas Indonesia (UI). Sebagai seorang Keuchik sekaligus lulusan Ilmu Komputer, saya memandang program ini bukan hanya sebagai ruang belajar, tetapi juga ruang untuk menemukan cara baru menghubungkan ilmu pengetahuan dengan praktik pemerintahan di tingkat gampong.
Sejak lama Universitas Indonesia saya kenal sebagai salah satu pusat lahirnya gagasan besar bangsa. Karena itu, berada di lingkungan kampus tersebut menghadirkan pengalaman yang berbeda. Saya tidak datang untuk mengejar gelar akademik, tetapi untuk memperkaya cara berpikir sebagai pemimpin pemerintahan paling dekat dengan masyarakat.
Selama mengikuti kegiatan, kami berdiskusi mengenai tata kelola pemerintahan desa, kepemimpinan, inovasi pelayanan publik, pengembangan ekonomi lokal, hingga pemanfaatan teknologi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Yang paling berharga justru bukan materi yang disampaikan, melainkan ruang dialog antara akademisi dan para kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia.
Di ruang diskusi itulah saya menyadari bahwa data bukan sekadar kumpulan angka, melainkan dasar lahirnya kebijakan yang tepat sasaran. Desa yang mampu mengelola data dengan baik akan lebih mudah memetakan kebutuhan masyarakat, menentukan prioritas pembangunan, hingga mengevaluasi setiap program yang dijalankan. Pengalaman tersebut semakin menguatkan pandangan saya bahwa transformasi digital harus menjadi bagian dari masa depan pemerintahan gampong.
Kesadaran itu membawa saya kembali memikirkan Gampong Jeulingke. Berbeda dengan banyak desa lain yang bertumpu pada sektor pertanian, Jeulingke berada di kawasan strategis Kota Banda Aceh, dikelilingi pusat pendidikan, perdagangan, dan aktivitas masyarakat perkotaan. Karakter ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Tata kelola pemerintahan tidak cukup dilakukan secara konvensional. Dibutuhkan sistem informasi yang mampu mengelola data kependudukan, pelayanan administrasi, potensi ekonomi, aset gampong, hingga berbagai program pembangunan secara lebih terintegrasi.
Namun, digitalisasi tidak boleh menghilangkan jati diri gampong. Selama berada di Universitas Indonesia, saya melihat budaya akademik yang hidup melalui diskusi, membaca, dan pertukaran gagasan. Pemandangan tersebut mengingatkan saya pada tradisi meunasah di Aceh. Di meunasah, masyarakat berkumpul untuk bermusyawarah, mendengar nasihat, serta mencari mufakat atas berbagai persoalan. Di kampus, gagasan diuji melalui data, penelitian, dan argumentasi ilmiah. Sekilas keduanya tampak berbeda, tetapi sesungguhnya memiliki tujuan yang sama, yaitu mencari solusi terbaik melalui dialog.
Menurut saya, masa depan pemerintahan gampong terletak pada kemampuan memadukan dua tradisi tersebut. Nilai-nilai musyawarah, kebersamaan, dan kearifan lokal harus berjalan berdampingan dengan pemanfaatan teknologi, data, dan inovasi. Teknologi seharusnya memperkuat partisipasi masyarakat, bukan menggantikannya.
Perjumpaan dengan para kepala desa dari berbagai daerah juga membuka wawasan baru. Ada yang masih berjuang menghadirkan akses internet bagi warganya, sementara yang lain telah mengembangkan pelayanan publik berbasis aplikasi. Perbedaan itu menunjukkan bahwa digitalisasi bukan perlombaan menjadi paling modern, melainkan upaya menghadirkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat masing-masing.
Bagi Gampong Jeulingke, saya melihat peluang yang sangat besar. Setiap tahun, kawasan ini menjadi tempat tinggal mahasiswa dari berbagai daerah. Kehadiran mereka merupakan modal intelektual yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Saya membayangkan Jeulingke dapat berkembang menjadi laboratorium kolaborasi antara pemerintah gampong dan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak hanya datang sebagai penghuni sementara, tetapi juga menjadi mitra dalam merancang inovasi pelayanan publik, pengelolaan data, pemberdayaan UMKM, digitalisasi arsip, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis masyarakat.
Perjalanan ke Universitas Indonesia juga mengubah cara pandang saya terhadap pembangunan. Selama ini pembangunan sering dipahami sebagai pembangunan fisik semata. Padahal, pada era digital, pembangunan juga berarti membangun sistem informasi, memperkuat jejaring kolaborasi, serta menciptakan tata kelola pemerintahan yang berbasis data dan pengetahuan.
Sekembalinya ke Gampong Jeulingke, saya tidak membawa oleh-oleh berupa benda. Saya membawa sebuah visi bahwa nilai-nilai meunasah dan kemajuan teknologi tidak perlu dipertentangkan. Musyawarah tetap berlangsung di balai gampong, tetapi hasilnya terdokumentasi secara digital. Pelayanan kepada masyarakat tetap mengedepankan pendekatan kekeluargaan, tetapi proses administrasinya menjadi lebih cepat, tertib, dan transparan melalui pemanfaatan teknologi.
Saya percaya bahwa kemajuan Aceh tidak hanya lahir dari pembangunan kota-kota besar, tetapi juga dari gampong-gampong yang dipimpin oleh orang-orang yang mau terus belajar. Seorang keuchik harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, karena perubahan zaman tidak pernah berhenti. Ketika pemimpin berhenti belajar, maka kemampuan melayani masyarakat pun akan ikut tertinggal.
Program Kepala Desa Masuk Kampus memberikan pelajaran penting bahwa kampus dan gampong bukanlah dua dunia yang terpisah. Keduanya memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Kampus menghadirkan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Gampong menghadirkan pengalaman, kearifan lokal, serta pemahaman nyata terhadap kebutuhan masyarakat. Ketika keduanya berkolaborasi, pembangunan akan menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Dari Gampong Jeulingke saya berangkat untuk belajar. Dari Universitas Indonesia saya pulang dengan keyakinan bahwa masa depan gampong tidak hanya dibangun melalui beton dan aspal, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan, teknologi, serta semangat untuk terus belajar. Sebab pada akhirnya, gampong yang maju bukanlah gampong yang paling modern, melainkan gampong yang mampu memadukan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para pendahulunya.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan opini penulis. Seluruh pendapat dan kesimpulan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi.


